FT-UGM. Dusun Bambusari, Desa Tempuranduwur, menjadi lokasi perencanaan sistem urban farming berbasis bambu yang digagas sebagai solusi penguatan ketahanan pangan dan pemanfaatan ruang terbatas. Perancangan ini disusun secara mandiri melalui kegiatan survei dan pengukuran langsung pada lokasi eksisting di depan Musholla Al Huda pada Desember 2025. Hasil kajian tersebut kemudian dirumuskan dalam bentuk proposal yang diserahkan kepada perangkat Desa Tempuranduwur pada 26 Januari 2026.
Inisiatif ini berangkat dari pengamatan terhadap kebutuhan masyarakat akan alternatif produksi tanaman obat dan pangan lokal yang dapat dikelola secara berkelanjutan. Lahan pertanian yang telah ada tetap dipertahankan fungsinya sebagai sumber produksi utama, sementara sistem hidroponik vertikal diperkenalkan sebagai strategi diversifikasi tanpa mengurangi kapasitas lahan produktif. Konsep vertikal dipilih untuk mengoptimalkan ruang terbatas serta memungkinkan penerapan dalam skala rumah tangga maupun komunal.
Kepala Dusun Bambusari, Pak Matkur, menyampaikan dukungannya terhadap gagasan tersebut. Ia menilai rancangan ini menjadi langkah awal yang penting bagi pengembangan sistem pangan di lingkungan dusun. “Di sini belum ada desain hidroponik, jadi sangat baik jika direncanakan sistem ketahanan pangan secara komunal yang bisa diakses oleh warga,” ujarnya. Menurutnya, keberadaan perencanaan ini membuka peluang terciptanya fasilitas produksi pangan bersama yang mampu mendorong kemandirian sekaligus mempererat solidaritas sosial masyarakat.
Material utama yang diusulkan adalah bambu petung sebagai pengganti pipa hidroponik konvensional. Pemilihan material tersebut mempertimbangkan ketersediaan sumber daya lokal, nilai ekologis, serta kekuatan strukturalnya. Bambu yang telah melalui proses pengawetan dinilai memiliki ketahanan terhadap kelembaban dan pemakaian jangka panjang, sehingga mendukung prinsip pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan dan selaras dengan karakter Dusun Bambusari.
Sekretaris Desa Tempuranduwur, Pak Sutarwo, memberikan apresiasi atas proposal yang diajukan. Gagasan tersebut dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta berpeluang mendukung penguatan kemandirian pangan apabila diterapkan secara konsisten dan berkelanjutan. Lokasi di depan Musholla Al Huda juga dipandang strategis dan mudah diakses warga, sehingga berpotensi difungsikan sebagai area percontohan sebelum dikembangkan lebih luas.
Rancangan hidroponik berbasis bambu ini diharapkan mampu menghadirkan model urban farming di Dusun Bambusari yang adaptif, aplikatif, dan berorientasi pada keberlanjutan. Proposal yang telah diserahkan menjadi langkah awal bagi pelaksanaan secara bertahap, sekaligus mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam mengembangkan sistem ketahanan pangan yang bertumpu pada potensi lokal. [Penulis : Nada Salsabila Ma’mun]
