FT-UGM. Sub-unit Lemahsugih telah melakukan serangkaian koordinasi dan konsultasi intensif dengan pemerintah desa setempat guna memitigasi kerawanan infrastruktur jalan yang kerap memicu kecelakaan lalu lintas di wilayah Desa Lemahsugih. Berdasarkan data dan informasi yang dihimpun melalui observasi lapangan, teridentifikasi dua titik lokasi strategis yang memiliki tingkat risiko kecelakaan sangat tinggi.
Permasalahan fundamental pada kedua lokasi tersebut adalah keberadaan blind spot atau titik buta yang permanen, di mana jarak pandang efektif pengendara terhalang secara fisik oleh kontur alam maupun bangunan, sehingga mereka kesulitan mendeteksi keberadaan kendaraan dari arah berlawanan secara dini. Salah satu lokasi prioritas yang menjadi target intervensi pada tikungan buta tersebut memiliki karakteristik topografi berupa turunan dan tanjakan yang sangat curam.

Kondisi geometrik jalan yang ekstrem ini sering kali mengakibatkan kendaraan berat, khususnya truk yang melaju dari arah atas dengan momentum tinggi, sulit mengantisipasi keberadaan kendaraan lain yang datang dari arah bawah. Akibat lebar badan jalan yang relatif sempit, pertemuan dua kendaraan besar di titik kritis ini sering memicu konflik lalu lintas yang berujung pada kemacetan total hingga kecelakaan fatal. Sementara itu, lokasi kedua yang direkomendasikan oleh pemerintah desa adalah sebuah persimpangan tiga (T-junction).
Persimpangan ini memiliki karakteristik jalan menurun pada akses utamanya, di mana para pengendara sering kali abai untuk mengurangi kecepatan atau melakukan pengecekan visual pada sisi kanan dan kiri jalan, sehingga kerawanan tabrakan di titik pertemuan arus menjadi sangat tinggi.
Guna memitigasi risiko-risiko tersebut, subunit kami menginisiasi program pemasangan dua unit cermin cembung jalan (convex mirror) yang ditempatkan secara strategis pada titik tikungan buta dan persimpangan tersebut. “Semoga dengan adanya fasilitas pendukung jalan ini, angka kecelakaan di titik-titik rawan tersebut dapat berkurang secara signifikan dan memberikan rasa aman bagi warga,” ujar Bapak Dede Sudrajat, Kepala Desa Lemahsugih, dalam prosesi peresmian aset.
Meskipun disadari bahwa masih terdapat beberapa titik rawan lainnya di wilayah desa, keterbatasan alokasi dana pengabdian menyebabkan realisasi saat ini baru dapat mencakup dua unit instrumen keselamatan.
Selanjutnya, aset tersebut telah diserahterimakan sepenuhnya kepada pihak pemerintah desa untuk menjadi tanggung jawab dalam aspek operasional serta pemeliharaan jangka panjang. Besar harapan kami agar program stimulan yang diinisiasi oleh mahasiswa Teknik UGM ini dapat menjadi prototipe yang dilanjutkan oleh pemerintah desa melalui pengadaan unit tambahan di titik rawan lainnya dengan memasukkannya ke dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) desa pada periode anggaran mendatang.[Penulis : Wafi Afdi Alfaruqhi Penyunting : Kangpoer]
